Showing posts with label JAKARTA. Show all posts
Showing posts with label JAKARTA. Show all posts

JUAL ALAT BIOPORI DI SOLO, JOGJA & JAKARTA

 KAMI JUAL ALAT PELUBANG RESAPAN BIOPORI
 melayani daerah : SOLO / SURAKARTA, JOGJA, JAKARTA, BOGOR, BANDUNG, JABOTABEK / JABODETABEK, DAN MELIPUTI : Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, Jakarta Utara, DAN SELURUH INDONESIA
Alat biopori berfungsi untuk membuat lupang resapan air, yang di sebut biopori
dan adapun fungsi dari biopori dapat klik di sini
KAMI MENJUAL / JUAL / TOKO / PEMBUAT ALAT BIOPORI
UD. AURELIA SANJAYA
hub : Ayub Pujiyanto
Email :
- mandorayub@gmail.com
- ud.aurelia.sanjaya@gmail.com
Hp : 08568547525 / 081226501760 / 087835200877
Flexy : 0271 2600084
Alamat : Celep Rt.22, Celep, Kedawung, Sragen, Jawa Tengah 57292, Indonesia
web : http://mandorayub.blogspot.com





Mandor, Tukang, Pemborong, Bangunan, Proyek, KONTRAKTOR, PELAKSANA, PROFESIONAL MUDA, DI, SURAKARTA, SOLO, SRAGEN, KARANGANYAR, BOYOLALI, SALATIGA, YOGYAKARTA, JOGYA, Klaten, SEMARANG, KAMI BERGERAK DALAM PEGADAAN BARANG dan JASA : PAGAR PANEL BETON, GYPSUM, RANGKA ATAP BAJA RINGAN, PAVING, WATERPROOFING, WALLPAPER DINDING, Urug Tanah. JASA : TUKANG, MANDOR, PEMBORONG, BANGUNAN, PROYEK, PROFESIONAL., AHLI, KERJASAMA YANG BAIK DAN TANGUNG JAWAB = Hasil yang Terbaik

Lima Juta Lubang Biopori di Jakarta

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan membuat lima juta lubang resapan biopori di Jakarta terwujud dalam waktu setahun hingga akhir 2009 ini. Saat ini, lubang biopori di Jakarta sebanyak 438 ribu buah. Gubernur Fauzi Bowo bahkan mengeluarkan Instruksi Gubernur untuk percepatan pembuatan biopori.
Hal itu disampaikan oleh Fitratun Nisa dari Badan Pengendalian Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) Jakarta, saat berbincang di acara Green Talk Green Radio.
GR (Green Radio): Bagaimana angka lima juta itu keluar?
FN (Fitratun Nisa): Target lima juta biopori itu merupakan target dari ibu Tatiek Fauzi Bowo. Beliau mencanangkannya di Hari Keluarga Nasional. Desember tahun lalu, Fauzi Bowo menargetkan sekitar satu juta lubang biopori.
GR: Metode apa yang dilakukan agar mencapai target itu?
FN: Salah satunya dengan melakukan koordinasi dengan ibu-ibu PKK dan kader Posyandu, sebagai pelaksana di lapangan. Saat ini, Jumlah posyandu di Jakarta sekitar 4069. Jika ada lima kader aktif di setiap posyandu, dan setiap satu kader membuat 10 lubang biopori, maka jumlah lubang biopori cepat mendekati target.
GR: Daerah mana yang akan digelar?
FN: Pengerjaannya bisa diterapkan di semua jenis tanah di seluruh wilayah DKI. Sehingga tidak ada pengecualian bagi masyarakat. Karena pembuatan lubang biopori itu mudah, murah, efisien dan efektif.
GR: Seperti apa kesulitan yang akan dijumpai?
FN: Secara prinsip, tidak ada kesulitan. Masyarakat cukup antusias membuat lubang biopori. Hal ini terlihat dari banyaknya permintaan masyarakat untuk disosialisasikan lubang biopori di wilayah mereka. Mungkin kesulitannya dari ketersediaan alat bor.
GR: Solusinya?
FN: Sebenarnya, harga alat bor relatif murah, sekitar Rp 200 ribu. Satu alat bor bisa digunakan bergantian membuat lubang biopori. Nah, saat ini BPLHD mendistribusikan alat bor tersebut di setiap kelurahan, namun belum seluruhnya mendapatkan alat tersebut.
GR: Apa efek yang diharapkan bila mencapai target?
FN: Efeknya cukup banyak, terlebih masyarakat telah merasakan manfaatnya. Seperti, berkurangnya genangan air di wilayah atau rumah mereka. Meminimalisir sampah organik yang terbuang atau keluar dari rumah, ketiga, jangka panjangnya adalah meresapnya air ke tanah sebagai cadangan air tanah.
Efek lainnya mungkin hilangnya berbagai penyebab penyakit, akibat berkurangnya genangan. Efek luasnya turut berpartisipasi dan antisipasi pada pemanasan global

BIOPORI tidak hanya untuk Gorontalo tapi juga di JAKARTA


BIOPORI untuk Gorontalo

Kota Gorontalo merupakan kota langganan Banjir. meski telah dibuatnya KANAL solusi Banjir Gorontalo, tapi tetap saja banjir menimpa kota gorontalo karena sistem Drainase dari KANAL tersebut kurang baik. Dan menurut saya pemerintah daerah juga lamban mengatasi Banjir kota Gorontalo. Banjir Gorontalo makin lama makin parah, buktinya seperti pada jalan yang biasanya tidak pernah kena banjir sekarang kena juga.
Menurut saya Solusi yang baik dan murah untuk mengatasi atau mengurangi banjir di kota Gorontalo yaitu dengan adanya sumur resapan atau Biopori. Sumur resapan biopori adalah metode resapan air yang ditujukan untuk mengatasi banjir dengan cara meningkatkan daya resap air pada tanah. Metode ini dicetuskan oleh Ir. Kamir R Brata, M.Sc, salah satu peneliti dari Institut Pertanian Bogor.

Peningkatan daya resap air pada tanah dilakukan dengan membuat lubang pada tanah dan menimbunnya dengan sampah organik untuk menghasilkan kompos. Sampah organik yang ditimbunkan pada lubang ini kemudian dapat menghidupi fauna tanah, yang seterusnya mampu menciptakan pori-pori di dalam tanah. Teknologi sederhana ini kemudian disebut dengan nama biopori.

Biopori dapat dibuat di halaman depan, halaman belakang atau taman dari rumah. Lubang biopori sendiri umumnya dibuat dengan lebar kira-kira 30 cm, jarak antar lubang sekitar 50 cm-100 cm.

manfaat yang bisa didapat dari lubang biopori antara lain :

1. Mencegah banjir
2. Tempat pembuangan sampah organik
3. Menyuburkan tanaman
4. Meningkatkan kualitas air tanah

Bio pori juga mempunyai keunggulan antara lain :

* Mengatasi sempitnya lahan terbuka untuk daerah resapan, Lubang resapan biopori juga dapat dibuat pada permukaan tanah dengan kondisi tanah bersemen. Idealnya suatu bangunan memiliki luas daerah resapan sebanyak 20-40 % namun dikarenakan sempitnya lahan, hal ini tidak memungkinkan. Lubang biopori bisa mengatasi masalah ini, dengan membuat lubang biopori maka permukaan luas daerah resapan yang tadinya hanya sebesar 78 cm² (luas lingkaran dengan diameter 10 cm), bisa menjadi 3218 cm² atau 41 kali luas daerah resapan tanpa dibuat konstruksi lubang biopori.
*Berkurangnya masalah yang di timbulkan sampah organik, Lubang resapan biopori diaktifkan dengan memasukan sampah organik yang berfungsi sebagai sumber makanan bagi fauna tanah dan akar tanaman. Seperti yang kita ketahui sampah terdiri dari dua jenis yaitu sampah anorganik dan sampah organik, persentase rata-rata sampah organik adalah ± 80%. Dengan demikian keberadaan lubang biopori dapat mengurangi masalah yang diakibatkan oleh sampah organik. Hasil akhir dari sampah organik akan menghasilkan kompos yang dapat diambil pada perioda tertentu.

* Mengurangi banjir, dengan kehadiran lubang biopori secara otomatis sebagian debit air hujan akan masuk ketanah, sehingga akan bisa mengurangi debit air hujan yang turun ke jalan/ selokan. Oleh karena itu penempatan lubang biopori harus dirancang pada posisi aliran air hujan, sehingga sebagian air hujan akan masuk ke dalam tanah.

Cara Pembuatan Lubang Biopori Resapan Air :
1. Membuat lubang silindris di tanah dengan diameter 10-30 cm dan kedalaman 30-100 cm serta jarak antar lubang 50-100 cm.
2. Mulut lubang dapat dikuatkan dengan semen setebal 2 cm dan lebar 2-3 centimeter serta diberikan pengaman agar tidak ada
anak kecil atau orang yang terperosok.
3. Lubang diisi dengan sampah organik seperti daun, sampah dapur, ranting pohon, sampah makanan dapur non kimia, dsb. Sampah dalam lubang akan menyusut sehingga perlu diisi kembali dan di akhir musim kemarau dapat dikuras sebagai pupuk kompos alami.
4. Jumlah lubang biopori yang ada sebaiknya dihitung berdasarkan besar kecil hujan, laju resapan air dan wilayah yang tidak meresap air dengan rumus = intensitas hujan (mm/jam) x luas bidang kedap air (meter persegi) / laju resapan air
perlubang (liter / jam).

jadi buat apa membuat kanal dengan status mega proyek dengan biaya miliaran rupain, tapi masih saja banjir? 
sumber : http://www.biopori.com/news_atasibanjir.php

ATASI BANJIR DENGAN TEKNOLOGI LUBANG RESAPAN BIOPORI

ATASI BANJIR DENGAN TEKNOLOGI LUBANG RESAPAN BIOPORI
Apakah kamu tidak memperhatikan bahwa sesungguhnya Allah menurunkan air dari langit, maka diaturnya menjadi sumber-sumber air yang mengalir, kemudian ditumbuhkan-Nya dengan air tanaman yang bermacam-macam warnanya, lalu ia menjadi kering dan kamu melihatnya kekuning-kuningan, kemudian dijadikan-Nya hancur berderai-derai. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal (QS Az-Zumar:21).
Ayat Al-Quran itulah yang menjadi dasar Peneliti Institut Pertanian Bogor yang juga staf Departemen Ilmu Tanah dan Sumberdaya Lahan, Fakultas Pertanian IPB Ir. Kamir R. Brata, Msc mengembangkan penemuan ilmiahnya tentang Lubang Serapan Biopori untuk mencegah banjir. Ia juga memanfaatkan sampah organik, untuk menghidupkan mahkluk kecil dalam tanah yang berguna sebagai penghasil sumber air baru.
Teknologi ini diawali dengan pembuatan lubang sedalam 120 centimeter atau disesuaikan dengan jenis tanah, dengan diameter sekitar 10 centimeter. Langkah selanjutnya adalah memasukan sampah lapuk dua sampai tiga kilogram tergantung jenisnya ke dalam lubang tersebut, lalu tutup dengan kawat jaring agar orang yang menginjaknya tidak terperosok.
Teknologi ini menurut Kamir, bisa diterapkan diselokan yang seluruhnya tertutup semen ataupun dihalaman rumah. Air hujan yang masuk dengan mudah ketanah dan terserap ke dalam lubang yang bisa dibuat lebih dari satu itu. Bagaimana perjalanan Kamir R. Brata sampai menemukan teknologi Lubang Serapan Biopori ini? Berikut bincang-bincan eramuslim di tempat kediamannya di Bogor.
Sebenarnya apa yang mengilhami anda menemukan teknologi baru seperti ini?
Saya terinspirasi bahwa segala sesuatu yang ada dimuka bumi ini tidak mubazir. Air penting bagi kehidupan jangan dibuang, sampah juga penting jangan dibuang. Sudah jelas masalahnya, karena itu saya menggunakannya dalam penelitian ini. Semua orang dapat memanfaatkannya tanpa alasan, dengan segera, agar tidak terlalu banyak kemubaziran dan kita dapat merasakan manfaatnya.
Yang banyak terjadi sekarang para ahli dan orang selalu digoda setan, dan menggampangkan permasalahan yang bisa berdampak besar. Misalnya biar saja buang sedikit sampah ataupun air dari atas pegunungan. Sedikit mula-mula memang tidak membahayakan. Tetapi kalau semua melakukannya pasti akan terjadi musibah.
Saya selaku orang Muslim, menyadari bahwa pelaksanaan ibadah yang dilakukan harus disertai dengan ketaatan kita dalam menjalankan perintahNya. Hal itu dapat terlihat kalau kita tidak mentaati apa yang menjadi perintah Tuhan, Dia akan menurunkan berbagai cobaan dan musibah. Karena itu, sebagai seorang ahli yang mengetahui sistem ekologi tanah, di mana antara ekosistem antara makhluk hidup yang berada di dalam tanah dan makhluk yang tak hidupnya saling ketergantungan, maka kita perlu mengupayakan agar ekosistem tanah tetap utuh dan tidak rusak demi kelangsungan kedua jenis makhluk yang ada didalamnya.
Sampah yang kita buang, lama kelamaan semakin banyak dan akan menjadi beban bagi lingkungan, dan juga beban bagi manusia, karena tempat tinggalnya harus dipakai untuk membuang sampah. Banyak juga yang berinisiatif membuangnya kesungai ataupun saluran air, itupun akan menimbulkan dampak baru yakni meluapnya air sungai.
Karena itu saya berupaya mencari sebuah teknologi dan sebagai orang yang beragama pun saya terpanggil untuk melakukan perubahan. Kita memang sudah mengenal yang namanya sumur resapan air, tapi proses itu masih belum bisa mencegah kemubaziran, karena tanahnya, hasil galian yang tidak sedikit itu harus dibuang ke tempat lain. Selain itu air yang meresap tidak terlalu banyak, sangat sulit memeliharanya.
Atas pemikiran itu serta dengan alasan saya mengetahui makhluk Tuhan yang ada di dalam tanah perlu dibantu untuk terus mendapatkan makanan dari bahan organik, maka saya mencoba membuat Lubang Serapan Biopori ini.
Sebenarnya apa yang menjadi keunggulan teknologi ini?
Air merupakan bagian dari makhluk hidup ada yang menyerap 50 persen dalam badannya, ada yang 80 persen, tanpa air makhluk hidup akan mati. Selain membutuhkan air, makhluk hidup membutuhkan oksigen dan juga makanan. Yang bisa menghidupi itu adalah mereka yang bisa memanfaatkan sinar matahari untuk berfotosintesis yakni tumbuhan dan tanaman, mereka membutuhkan makanan dan energi yang diserap melalui akar yang ada ditanah. Proses ini terjadi dengan sempurna apabila kandungan air dalam tanah cukup dan tidak berlebihan.
Jika air tanah masih utuh maka kerja makhluk di bawah tanah ini akan mengganti air yang hilang karena penguapan diambil oleh tanaman dan manusia, dan perlahan-lahan muncul sumber air baru yang akn dialirkan ke sungai, untuk danau dan situ-situ, serta dapat mendorong air asin tidak masuk kedarataan. Itu akan terjadi jika air cukup diserap oleh tanah. Sebagian orang menganggap itu kerja dari hutan, lantaran mereka melas mengurusnya lagi maka sedikit demi sedikit hutan diubah menjadi kebun yang jelas fungsinya berbeda. Ini yang lama kelamaan diselewengkan.
Saya mencoba berpikir bahwa lubang-lubang kecil bisa dibuat oleh siapapun, katakanlah hutan yang tidak ada penghuninya saja mempunyai lubang-lubang kecil atau Biopori. Kenapa disebut Biopori, sebab lubang yang dibuat itu diisi dengan bahan organik, mulanya cacing, dan di situ tidak ada pencemaran, karena bahan organik semuanya akan larut dan hilang, dan di dalam lubang itu terdapat celah-celah cabang.
Dengan teknologi ini, kita membuat tempat untuk makhluk hidup untuk penyerapan air, dengan memanfaatkan apa yang harus kita buang. Namun yang tidak semua jenis sampah yang bisa ditampung, khusus sampah organik saja. Oleh karena itu yang paling dibutuhkan dalam penerapan teknologi ini adalah kesadaram untuk tidak membuang sampah karena sampah itu adalah sumber daya, apapun jenis sampahnya. Sampah yang tidak lapuk bisa dimanfaatkan oleh pemulung menjadi bahan industri.
Karena itu ubahlah kebiasaan kita, agar selalu memisahkan sampah organik dan non organik. Serta jangan selalu membuang sampah di tempat penampungan, selain menimbulkan bau, sarang lalat, dan tikus, juga dapat merusak lingkungan. Apalagi jika diendapkan di tempat pembuangan akhir sampah, itu akan lama lapuknya dan dapat menghasilkan zat metana yang apabila tidak disalurkan bisa meledak seperti yang terjadi di TPA Luwi Gajah.
Teknologi ini bisa diterapkan di mana saja?
Karena sejak awal saya memikirkan bahwa ini sangat mudah untuk diterapkan, maka tidak ada alasan bagi orang yang membuang sampah dan menggunakan air untuk tidak melakukannya. Artinya setiap orang yang menghasilkan sampah dan menggunkan air maka semua wajib memproses sampahnya sendiri, jangan dibuang ke tempat lain, demikian juga dengan air. Mau lahannya sudah ditutup oleh bangunan ataupun jalan, apalagi yang masih terbuka harus melakukan cara ini. Kenapa ini diwajibkan, jangankan yang tertutup dengan bidang kedap yang dibuat manusia, lahan pertanian dan perkebunan yang masih kosong saja teknologinya membuat kelebihan air untuk dibuang.
Dengan teknologi ini semua orang dapat memanfaatkan air yang sangat dibutuhkan oleh kehidupan di mana saja. Karena curah hujan ini tidak hanya jatuh dikawasan situ saja, sehingga yang paling gampang agar tidak membebani lingkungan, semua orang harus membuat peresapan itu dengan baik. Setelah saya terangkan dengan mudah, diharapkan ini bisa diterapkan oleh semua orang.
Apakah ini bisa meminimalisir banjir seperti yang terjadi di kota Jakarta?
Air menjadi penyebab banjir kalau drainase tidak bisa menampung air saat itu. Jika hujan jatuh secara merata bukan di sungai, di daratan kita resapkan dan meresapnya juga perlahan-lahan, itu akan menjadi sumber air baru. Kalau tidak diresapkan darimana pun air berasal, hutan, kebun maupun pemukiman kalau dibiarkan akan membebankan sungai. Apalagi kalau ditambah dengan sampah yang dibuang sembarangan. Ini akan menjadi sumbatan bagi sungai dan menimbulkan pencemaan baru bagi sumber air. Jika teknologi ini diterapkan maka banjir yang lima tahunan terjadi pasti tidak seberat sekarang ini. Saya menganggap banjir yang terjadi ini disebakan rencana umum tata ruang yang belum dilakukan dengan baik.
Penemuan anda ini sepertinya harus dibarengi dengan kesadaran masyarakat, apakah ada upaya dari IPB bekerjasama dengan pihak lain untuk membangkitka kesadaran masyarakat itu?
Setelah ada media yang mulai mengangkat hasil penelitian ini, saya merasa mempunyai tanggung jawab moral, setelah mengetahui ada teknologi yang mudah, dan kira-kira semua orang bisa menerapkannya. Saya mewacanakan ini. Dan untuk merubah kebiasaan masyarakat, harus ada perubahan persepsi, bahwa sampah itu jangan dibuang. Memang tidak mudah, karena pasti mereka berfikiran sampah akan mencemarkan pemukiman kita.
Apakah penemuan teknologi lubang serapan Biopori ini sudah anda sosialisasikan kepada pemerintah dan apa tanggapan dari pemerintah?
Saya sudah tawarkan pada Departemen Pertanian, tapi belum ada tanggapan. Karena itu saya mencoba sosialisasikan melalui anda (media), meskipun tidak secara langsung, namun paling tidak ini dapat menjadi pilihan bagi masyarakat. Saya akui ini memang agak sulit untuk disebarkan langsung, karena aparat dibawahnya masih mengikuti petunjuk teknis dari departemen terkait. Tetapi jika departemen mengetahui ada pilihan yang lebih aman, bisa melakukannya.
Apa kelemahan hasil penemuan anda ini, misalnya saja sampah organik ini busuk dan menjadi bau?
Saya sedang menanti-nanti apa yang menjadi kelemahannya. Menurut saya, kalau bahan organik itu berada pada lubang yang kecil bisa masuk cacing, proses itu akan diuraikan, tidak mungkin menjadi kotor dan bau. Tetapi kalau lubang besar, busuk, karena terlalu banyak, sampah sulit diuraikan. Karena itu sampah harus disebarkan, jangan hanya berada disatu tempat. Hasilnya itu juga bisa dijadikan kompos.
Berapa biaya yang dikeluarkan untuk lubang serapan Biopori ini?
Kalau untuk membuat lubangnya, kita hanya memerlukan bor tanah. Paling mudah karena dapat dilakukan secara manual dengan bor tanah dengan harga 200-300 ribu dan itu bisa dipakai oleh puluhan orang dalam waktu yang lama. Dapat dipakai untuk membuat lubang tambahan. Jika dibandingkan dengan sumur serapan, biayanya akan lebih mahal. Dengan lubang kecil ini air akan menyerap lebih cepat, karena air yang masuk sedikit dan menyebar. Untuk penerapan teknologi ini biayanya tidak terlalu besar, tetapi efektivitasnya lebih besar. (noffel)
 
Sumber:
http://www.eramuslim.com/berita/bc2/7215160952-ir.-kamir-r.-brata-msc- atasi-banjir-dengan-teknologi-lubang-serapan-biopori.htm

Biopori, Alternatif Kegiatan Goes Green



Biopori, Alternatif Kegiatan Goes Green

Akhir-akhir ini, hampir di setiap kegiatan “Goes Green” atau semacam kegiatan peduli lingkungan, menyertakan kegiatan pembuatan Biopori, atau lengkapnya Lubang Resapan Biopori. Konon, banyak manfaat lingkungan yang bisa didapatkan dari lubang resapan ini.
Apa itu Biopori dan Lubang Resapan Biopori (LRB)? Biopori itu sendiri adalah pori-pori berbentuk lubang (terowongan kecil) yang dibuat oleh aktivitas fauna tanah atau akar tanaman. Sementara Lubang Resapan Biopori adalah lubang yang dibuat oleh manusia secara vertikal ke dalam tanah dengan tujuan memanfaatkan aktivitas fauna tanah dan akar tanaman untuk membuat kompos bermutu dan mencegah banjir. Di dalam LRB tersebut akan dimasukkan sampah organik yang memicu terbentuknya Biopori. Pembuatan LRB ini biasanya dilakukan di dekat lubang saluran air, sekeliling pohon, dan lokasi hijau atau batas tanaman.


Lubang Biopori (tampak luar)
Bagaimana membuat Lubang Resapan Biopori? Cara pembuatan LRB sangatlah mudah, apalagi ada alat yang khusus dirancang untuk membuat lubang resapan biopori, seperti di bawah ini:

Ujung Alat Biopori
Cara pembuatan lubang resapan biopori adalah sebagai berikut:
  1. Buat lubang silindris secara vertikal ke dalam tanah dengan diameter 10 cm dan kedalaman kurang lebih 100 cm.
  2. Mulut lubang dapat diperkokoh dengan semen setebal 2 cm di sekitar mulut lubang atau dapat menggunakan pipa paralon berdiameter 10 cm (sesuai diameter lubang). sebaiknya diberi penutup juga agar sampah-sampah non organik tidak masuk ke lubang dan tentunya mencegah orang terperosok ke dalam lubang. (ninja)
    Pipa Penutup Lubang Resapan Biopori
  3. Jarak antara lubang yang satu dengan lubang yang lain kurang lebih 2-4 meter.
  4. Isi lubang dengan sampah organik yang berasal dari sampah dapur, sisa tanaman, dedaunan, atau pangkasan rumput.
  5. Kompos yang terbentuk dari LRB ini (biasanya dalam waktu sebulan-dua bulan) dapat diambil dan diisi kembali dengan sampah organik yang baru, bersamaan dengan pemeliharaan lubang resapan tersebut.
Apa Manfaat Pembuatan Lubang Resapan Biopori? Manfaat dari pembuatan LRB ini adalah:
  1. Meningkatkan daya resapan air.
  2. Mengubah sampah organik menjadi kompos dan mengurangi emisi gas rumah kaca.
  3. Memanfaatkan aktivitas fauna tanah dan akar tanaman.
  4. Mengatasi masalah yang ditimbulkan oleh genangan air seperti penyakit demam berdarah dan malaria.
  5. Mempercepat peresapan air hujan kedalam tanah sehingga dapat mengurangi banjir.
Menurut situs resmi Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat, wilayah Jabodetabek idealnya membutuhkan kurang lebih 76 Juta Lubang Resapan Biopori (bigeyes) sebagai upaya pencegahan banjir dan untuk menyimpan air pada musim kemarau. Sementara, jumlah LRB yang baru ada sekarang ini sebanyak 335.590 lubang. Memang masih sangat jauh dari target ideal. Namun, jika kita ikut menyumbangkan LRB untuk kota kita tercinta, bukan tidak mungkin target 76 Juta LRB itu tercapai. (evil_grin)
Salah Satu Kegiatan Penanaman Lubang Biopori di Bilangan Rasuna Said, Jakarta

SUMBER : http://deblogger.org/2010/02/28/biopori-alternatif-kegiatan-goes-green/
referensi: http://www.biopori.com

DKI SIAP TERAPKAN TEKNOLOGI BIOPORI

BIOPORI  : DKI SIAP TERAPKAN TEKNOLOGI BIOPORI DKI SIAP TERAPKAN TEKNOLOGI BIOPORI


Konsep biopori merupakan salah satu model prinsip sumur resapan sebagai syarat IMB
DEPOK -- Setelah Pemkot Bogor, giliran Pemprov DKI Jakarta menyatakan kesiapannya untuk menerapkan teknologi biopori guna meningkatkan daya serap air ke dalam tanah di ibukota. "Saya akan imbau warga agar membuat lubang-lubang biopori di rumah mereka," ujar Gubernur DKI Jakarta, Sutiyoso, usai mensimulasikan pembuatan lubang biopori di kawasan hutan kota kampus Universitas Indonesia, Depok, Ahad (22/4).
Menurut Bang Yos -- sapaan akrab gubernur -- teknologi lubang serapan biopori yang diperkenalkan pakar lingkungan Kamil R Brata, dosen Fakultas Pertanian IPB, sangat cocok untuk wilayah Jakarta. "Terutama di kawasan padat pemukiman."
Selain mudah dan murah, lanjut Bang Yos, teknologi biopori sangat aplikatif dan lebih sederhana daripada sumur serapan yang selama ini dianjurkan untuk penduduk Ibu Kota. Walaupun demikian, Bang Yos mengaku, hal yang paling penting dari semua upaya meningkatkan daya serap air hujan ke tanah yaitu kesadaran masyarakatnya.
Menindaklanjuti imbauan Sutiyoso, kepala Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta, Budirama Natakusumah, menegaskan, instansinya akan segera menyusun langkah-langkah sosialisasi penerapan lubang biopori di Jakarta. "Seperti kata Pak Gubernur, lubang biopori memang cocok untuk kawasan padat penduduk. Kita akan segera sosialisasikan imbauan ini," kata Budirama.
Menurut Budirama, lubang biopori merupakan salah satu model prinsip sumur resapan yang menjadi syarat penerbitan izin mendirikan bangunan (IMB) di Jakarta. Sesuai Pergub 68/2005 dan Pergub 112/2005 tentang Lingkungan Hidup dan IMB, salah satu syarat penerbitan IMB untuk setiap bangunan di Jakarta adalah adanya sumur resapan yang dibuat menyatu dengan bangunan tersebut. "Nah, Pergub ini bisa kita jadikan dasar hukum penerapan biopori di Jakarta."
Sampai triwulan 2007, Budirama melanjutkan, tingkat ketaatan warga membuat sumur resapan relatif belum baik. Dari minimal satu juta sumur resapan yang dibutuhkan Jakarta, kini baru ada 29 ribu sumur resapan. "Jadi memang sosialisasi sumur resapan ini harus kita tingkatkan terus, agar masyarakat semakin sadar manfaatnya," tutur Budirama.
Sehari sebelumnya, Sabtu (21/4), dalam rangka memperingati Hari Bumi dan Hari Jadi ke-525 Bogor, Wali Kota Bogor, Diani Budiarto, mencanangkan pembuatan 5.250 lubang resapan biopori di 21 kelurahan pada enam kecamatan yang ada. Secara simbolik pembuatan lubang biopori ini dilakukan di Lapangan Sempur, Bogor Tengah.
Pencanangan tersebut diikuti sekitar 4.000 peserta terdiri dari 1.500 mahasiswa IPB, 1.500 pelajar SMA dan SMK Kota Bogor, 500 pegawai Pemkot Bogor, serta 500 anggota Pramuka Kwartir Cabang Kota Bogor. "Sebanyak 4.000 orang inilah yang nantinya bertugas membuat lubang biopori di Kota Bogor," ungkap Indra M Rusli, ketua Panitia Pelaksana kegiatan tersebut.
Indra yang juga Asisten Sosial Ekonomi (Sosek) Pemkot Bogor, menerangkan, penetapan angka 5.250 lubang biopori didasarkan dikaitkan dengan hari jadi ke-525 Bogor. "Tetapi karena pelaksanaan ini juga berkaitan dengan Hari Bumi, kita menargetkan membuat 22.407 lubang."
Wali Kota Bogor, Diani Budiarto, berharap, pembuatan lubang resapan biopori mampu menjaga ketersediaan air sebagai sumber kehidupan yang saat ini telah mendekati kritis.
Berdasarkan hasil kajian global tentang krisis air yang disampaikan pada World Water Forum II pada tahun 2000, kata Diani, disebutkan banyak negara yang akan mengalami krisis air. "Salah satunya adalah Indonesia, Nah lubang biopori ini saya harap bisa menghindarkan Indonesia dari krisis air."
Kamir R Brata, penemu teknologi biopori, menjelaskan, lubang resapan biopori dibuat berukuran diameter 10 cm dengan kedalaman 80 cm sampai satu meter."Selain untuk menyerap air, lubang ini bisa juga untuk menampung sampah organik yang akan terurai dengan alami."
Fakta Angka
25 Ribu
Jumlah sumur resapan di Jakarta dari target 1 juta sumur resapan.
 
Sumber: http://www.republika.co.id/koran_detail.asp?id=290476&kat_id=286

Harga Kusen ALUMINIUM di Tanggerang

Harga Kusen ALUMINIUM



Dengan hormat,
Bersama dengan ini kami  memberikan  penawaran pemasangan kusen alumunium,kusen partisi dll.
Adapun perincian biyaya sebagai berikut:

  • 1).Aluminium 3" Warna                                                          HARGA
  •     A).Biasa (ca,coklat,hitam)                                             Rp. 65.000,-/ m
  •     B).Powder Coating                                                         Rp. 75.000,-/ m
  •  
  • 2).Aluminium 4" Warna
  •     A).Biasa                                                                           Rp. 85.000,-/ m
  •     B).Powder Coating                                                         Rp. 95.000,-/ m
  •     C).Urat Kayu                                                                    Rp. 1.35.000 /m
  •  
  • 3).Jendela Casman                                                          Rp. 650.000,-/ m        
  •  
  • 4). A).Kaca Polos 5mm                                                    Rp. 80.000,-/ m
  •      B).Kaca Riben 5mm                                                      Rp. 85.000,-/ m
  •  
  • 5).A).Kaca Polos  10mm                                                 Rp. 325.000,-/ m
  •      B).Kaca Polos   12mm                                                  Rp. 425.000,-/ m 
  •  
  • 6).A).Kaca 10mm Tempret                                              Rp. 500.000,-/ m
  •      B).Kaca 12mm Tempret                                               Rp. 600.000,-/ m
  •  
  • 7). Pemasangan Pintu
  •     A). Pintu Expanda                                                           Rp. 1.500.000,- / bh
  •     B). Pintu Sliding                                                               Rp. 1.200.000,- / bh
  •     C). Pintu Swing                                                                Rp. 1.350.000,- / bh
Demikianlah penawaran dari kami, atas perhatian dan kesempatan yang akan diberikan, kami ucapkan terima kasih.
Jln.Halim Perdana Kusuma Rt.01/03 Jurumudi Tanggerang
Telp. (021) 5111 7728, 0812 1972 9948, 0819 0557 0473


 Hormat kami
TEGUH JAYA ALUMINIUM

Best Regards
Agung Sopyan
Hp        :0812 1972 9948
Hp        :0819 0557 0473
Esia     :021-5111 7728
pin BB:3071EBBD





Mandor, Tukang, Pemborong, Bangunan, Proyek, KONTRAKTOR, PELAKSANA, PROFESIONAL MUDA, DI, SURAKARTA, SOLO, SRAGEN, KARANGANYAR, BOYOLALI, SALATIGA, YOGYAKARTA, JOGYA, Klaten, SEMARANG, KAMI BERGERAK DALAM PEGADAAN BARANG dan JASA : PAGAR PANEL BETON, GYPSUM, RANGKA ATAP BAJA RINGAN, PAVING, WATERPROOFING, WALLPAPER DINDING, Urug Tanah. JASA : TUKANG, MANDOR, PEMBORONG, BANGUNAN, PROYEK, PROFESIONAL., AHLI, KERJASAMA YANG BAIK DAN TANGUNG JAWAB = Hasil yang Terbaik

LOSTER, Lopster, Lobster, Ventilasi Udara, ANGIN-ANGIN dari Kayu Jati

 LOSTER, Lopster, Lobster,  Ventilasi Udara, ANGIN-ANGIN dari Kayu Jati Asli Jepara
 Loster, Lobang Angin yaitu alat yang berguna sebagai ventilasi udara

Hub :
AHMAD MUSYAFAK
hp : 085326473079
(sms/call)
Kami melayani Pesanan dari Berbagai Kota:
Terutama Kami Melayai Wilayah Jawa Tengah : Semarang, Surakarta / Solo,
dan kota Lain : Jakarta, Bandung, Jawa Timur, Surabaya
Kami Melayani Partai Besar dan Partai Kecil
Badi Toko Bangunan Yang Ingin Jadi Agen Kami Silahkan Hub No di atas

 Loster, Lobang Angin yaitu alat yang berguna sebagai ventilasi udara. Ada beberapa macam loster yang telah di produksi, adalah sbb: Cek Harga  085326473079

sekar

seruni

maroko

clasic

original
 tulip

teratai

 sheraton

padma

 sriwijaya

 vinolia

majapahit25

 cendana

majapahit35

 lafadz-a

lafadz-b
LAYANAN PRODUK INI KERJASAMA DENGAN :


UD. AURELIA SANJAYA
hub : Ayub Pujiyanto
Hp : 0856 8547 525
Flexy : 0271 2600084
Alamat : Celep Rt.22, Celep, Kedawung, Sragen, Jawa Tengah 57292, Indonesia 


Mandor Bangunan Mandor KONTRAKTOR PELAKSANA KONTRAKTOR PROFESIONAL MUDA KONTRAKTOR DI SURAKARTA KONTRAKTOR DI SOLO KONTRAKTOR DI SRAGEN KONTRAKTOR DI KARANGANYAR KONTRAKTOR DI BOYOLALI KONTRAKTOR DI SALATIGA KONTRAKTOR DI YOGYAKARTA KONTRAKTOR DI JOGYA KONTRAKTOR DI SEMARANG